TANGAN TERAMPIL PECINTA BURUNG BERKICAU || SKILLED HANDS LOVERS songbird



TANGAN TERAMPIL PECINTA BURUNG BERKICAU

Margono nama yang dikenal di seputaran pecinta burung berkicau di daerah Kota Yogyakarta. Lingkungan rumah dan rekan sewaktu dirinya kecil lebih mengenal dirinya dengan julukan Mas Iyal. Kini beliau berusia lebih dari kepala empat, meskipun demikian ia masih aktif di setiap event lomba burung berkicau dari kelas latian bersama (Latber) hingga lomba tingkat nasional setingkat piala presiden. Kesenangannya akan memelihara burung khususnya burung berkicau, membuat dirinya dikenal sebagai orang yang memiliki tangan terampil dalam mempersiapkan burung berkicau memenangkan perlombaan.
Sebenarnya, ia telah menggeluti dunia burung berkicau semenjak SMP. Beliau mengutarakan bahwa sejak saat itu dirinya telah membuka kios burung di Pasar Ngasem yang lama bersama temannya, tepatnya di sebelah utara bangunan cagar budaya Pulau Cemeti Tamansari. Kedekatan dirinya dengan burung berkicau tak hanya membuat dirinya mengenal burung yang bagus dan siap dilombakan, tetapi dia juga memiliki relasi yang luas dengan beragam tingkatan kelas masyarakat yang gemar akan burung berkicau.
Pengalaman yang cukup mumpuni dan tentunya banyak relasi dalam diri Bapak Margono dijadikan modal dalam mengolah serta mempersiapkan kematangan burung berkicau yang ia garap. Bapak Margono memproklamirkan dirinya sebagai orang yang titis dalam istilah jawa maksudnya sangat peka dalam memilih burung kicauan yang siap dilombakan khususnya burung Cucak Ijo. Di sisi lain kecintaan akan burung Cucak Ijo, tak penah luput darinya gelar juara dalam setiap kali dirinya mengikutsertakan burung peliharaannya dalam perlombaan.
Diakui pula, beliau juga setiap kali menggarap burung yang berbeda akan memberi treatment yang berbeda. Hal tersebut ia utarakan bermaksud untuk mempelajari karakter burung yang ia garap. Setelan pakan istilah yang disampaikan Bapak Margono dalam memberi asupan makanan bagi burung berkicau miliknya. Setelan itu menentukan kinerja burung saat dilombakan. Dalam penilaian yang diharapkan, tentunya burung tersebut memiliki stamina, power, dan volume yang sesuai dengan subjektivitas juri lomba saat menilai burung garapannya.
Pernah pula kepiawaian Bapak Margono diakui rekan sejawatnya dan Bapak Margono sempat menyampaikan bahwa dirinya juga pernah diajukan menjadi juri dalam sebuah event mingguan latian bersama burung kicauan se-Kota Jogja. Tapi hal tersebut tak bertahan lama, dirinya lebih memilih menjadi peserta lomba saja. “Jadi juri dalam lomba itu sebenarnya tidak susah tapi  perlu keberanian terkadang ancaman dari peserta juga berdatangan. Saya lebih suka menggarap burung siap lomba saja di rumah biar lebih maksimal”, ujarnya menjelaskan.
Lantas bagaimana Bapak dapat memilih burung yang siap dilombakan khususnya burung cucak ijo?. “ Perlu diketahui karakter fisik tubuh burung yang pertama kalau ingin mendapatkan volume suara dari burung lihat lebar bibir burung yang sedikit lebih lebar. Ditambah pula perhatikan bagian bawah paruh burung ada bulu yang berwarna hitam dan membentuk seperti sudut lancip, perhatikan burung yang bagian hitamnya sedikit menyempit itulah burung yang memiliki stamina yang kuat jika dilombakan. Itu hasil pengamatan saya sejak dulu menggarap burung cucak ijo.” 
Berkaitan dengan setelan pakan itu merupakan hasil uji coba mengukur banyak sedikitnya tiap jenis pakannya. Semisal jangkrik kita cobakan diberi dua-dua pada pagi dan sore hari lalu kita lihat perkembangannya, bahkan terkadang butuh pula asupan buah seperti apel dan pisang. Jika tidak memperlihatkan perkembangan apapun diganti dengan ditambah atau diganti pola asupannya.
Pastinya dalam berjalannya waktu Bapak Margono juga pernah mengalami tindak kriminalitas dengan burung kicauannya. Ia menceritakan waktu itu saat satu hari sebelum Hari Raya Idul Fitri dirinya menjemur burung kicauannya di bagian depan rumah naasnya burung tersebut dicuri orang dengan kendaraan bermotor. Menurut uraian beliau burung yang dibawa seharga 18 juta rupiah.
Beliau juga berbagi tips bagi pemula yang akan menggarap burung Cucak Ijo. Perlu diingat ketika burung dalam kondisi yang prima, dan dalam posisi tidur khususnya di malam hari ditambah apalagi sedang diberi penutup sangkar,  jangan pernah dibuka atau disenggol baik sengaja atau tidak. Hal itu menurut beliau, akan membuat bulu burung Cucak Ijo akan rontok yang akhirnya merusak kondisi burung dan hal itu tentunya membuat waktu pemulihan kondisi burung akan lebih lama, kurang lebih tiga bulan sebelum burung itu siap dilombakan lagi. Perbincangan dengan Bapak Margono menunjukan bahwa memelihara burung berkicau tak semudah yang dibayangkan apalagi burung yang siap dilombakan.
Pestasi yang pernah diraih beliau diantaranya juara berkali-kali dalam latber di Singosaren serta di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY), juara 3 di event Piala Raja di Candi Prambanan, lalu yang paling besar juara 3 dalam event piala presiden tahun 2014, tentunya masih banyak kejuaraan yang berhasil diraih dalam perlombaan burung berkicau khusus kategori Cucak Ijo tingkat daerah bahkan nasional.  




                                    SKILLED HANDS LOVERS songbird
Margono known names in around lovers of birds chirping in the city of Yogyakarta. The home environment and associates when he was little better acquainted himself with the nickname Mas Iyal. Now he heads the age of four, though he is still active in every race event songbird of latian class together (Latber) to national level competition trophy presidential level. The fun will keep the birds, especially birds chirping, made himself known as a person who has a skilled hand in preparing songbird win the race.Actually, he has been in the world of twittering birds since junior high. He pointed out that since that time he has opened a bird stalls in the old Ngasem with his friend, precisely in the north of heritage buildings Cemeti Castle Island. Her closeness with twittering birds not only made himself familiar birds were nice and ready to be contested, but he also has extensive relationships with various levels of class of people who like to be a bird chirping.Capable enough experience and certainly a lot of relationships inside you Tanuwijaya used as capital in the process and preparing the maturity songbird that he was working. Mr. Margono proclaimed himself as the person in terms of Java bead point is very sensitive in selecting birds chirping birds in particular are prepared contested Cucak Ijo. On the other hand the love birds Cucak Ijo, penah not escape it whenever titles in her participation in the race pet bird.Recognized Similarly, every time he also worked on the different birds will give a different treatment. This he uttered intends to study the character of the bird which he was working. Feed settings terms that delivered Mr. Margono in giving food intake for birds chirping hers. Settings that determine the performance of the birds when contested. In the assessment of the expected, of course, the birds have the stamina, power, and volume according to the subjectivity of the race jury when assessing the bird garapannya.Had also recognized the expertise of Mr. Tanuwijaya counterpart and Mr. Margono had said that he also had asked the judge for a weekly event together latian birds chirp as the city of Yogyakarta. But it did not last long, he would prefer be the only race participants. "So the jury in the race it was not difficult but it takes courage sometimes the threat of participants are also arriving. I prefer to work on a bird ready to race at home let more leverage, "he explains.So how do you can choose a bird that is ready contested especially cucak green bird ?. "Keep in mind the physical character of the bird's body first if you want to get the volume of birds view birds lip width slightly wider. Coupled look at the bottom half of the bird feathers are black and formed as an acute angle, note the birds the black is a little narrower that birds have a strong stamina if contested. That's my observation since the first working cucak green bird. "In connection with the feed setting is the result of a test to measure the extent of each type of feed. Such crickets we piloted by two-two in the morning and evening and then we see growth, and sometimes even need anyway intake of fruits such as apples and bananas. If it does not show any development is replaced by plus or changed patterns of intake.Certainly the passage of time Mr. Margono also have experienced crime with birds booms. He recounted the time when one day before Idul Fitri booms bird sunning himself in front of the house the bird naasnya stolen by motor vehicle. According to his description of the bird that was brought for 18 million rupiah.She also shares tips for beginners that will work Cucak Ijo birds. Keep in mind when bird in prime condition, and in a sleeping position, especially at night plus let alone being given a cage cover, never opened or disenggol whether intentionally or not. It was according to him, would make Cucak Ijo bird feathers will fall out eventually cause deterioration of the bird and it certainly makes the recovery time will be longer state bird, about three months before the bird was ready to be contested again. Conversation with Mr. Tanuwijaya shows that keeping birds chirping is not as easy as imagined let alone a bird that is ready contested.Pestasi had won him such a champion many times in latber in Singosaren as well as in the Market Animal and Plant Conservation Yogyakarta (PASTY), 3rd place in the event the King's Cup in Prambanan, and the greatest champion 3 in the event trophies president in 2014, of course, still many championships that were achieved in the special category race songbird Cucak Ijo national and even regional level.

Comments

Popular posts from this blog

Innovators CAR ANDROID \\ INOVATOR MOBIL ANDROID