SOSOK PENYELAMAT
SOSOK PENYELAMAT
Muhammad Yuli
Saputra atau kerap disapa Yuli. Seorang anak laki-laki kelahiran 1 Juli 1995
asal Gunungkidul menjadi sosok penyelamat yang sadar alam bagi lingkungan
masyarakat. Umurnya memang belum seberapa, namun soal pengalaman bukan lagi
menjadi hal yang biasa. Keikutsertaannya sebagai salah satu personil dalam
komunitas pecinta alam dan relawan PMI di Gunungkidul membuat Yuli nampak
berbeda dari pemuda-pemuda yang lainnya.
Yuli bukanlah
orang yang memiliki kemampuan khusus. Ia hanyalah anak laki-laki biasa yang
awalnya tergabung dalam komunitas pecinta alam. Menurut pengakuannya, ia mulai
aktif dalam dunia pecinta alam sejak kelas 1 SMK pada sebuah komunitas bernama
“PALASIT” yaitu, Pecinta Alam Siswa Teknik. Tidak ada hal lain yang
memotivasinya, selain hanya ingin belajar untuk menjaga serta mengerti tentang
alam Gunungkidul dan lingkungannya. Semenjak pemuda ini menjadi pecinta alam,
kegiatan yang ia tekuni adalah panjat tebing, susur goa, naik gunung, mengikuti
berbagai pembinaan alam dan sebagainya. Meskipun pada saat itu, anak-anak muda
yang ikut serta dalam komunitas ini sangat sedikit, namun pemuda ini justru
sangat bersemangat.
Berbagai
kegiatan telah Yuli lakukan bersama komunitas tersebut. Penghargaan dan
kejuaraan bukan lagi menjadi hal yang jarang ia dapatkan dalam berbagai
perlombaan panjat tebing. Semangat seorang pemuda ini kemudian memotivasi
teman-temannya untuk ikut menjadi anggota pada komunitasnya. Dengan peran para
pemuda dalam pecinta alam tersebut, kini alam yang ada di Gunungkidul semakin
tereksplor menjadi tempat wisata yang begitu menarik dan terjaga.
Lalu mengapa
seorang pemuda bernama Yuli dikatakan sebagai sosok penyelamat? Ya, awalnya
ketika ia SMK, pemuda ini membantu beberapa kegiatan yang dilakukan oleh PMI
Gunungkidul, salah satunya membantu ketika terdapat kecelakaan di wilayah
Gunungkidul, misalnya kecelakaan di pantai, goa, dan sebagainya. Namun, hal
tersebut tidak berjalan lama, mengingat bahwa ia masih memiliki tanggung jawab
sebagai seorang pelajar SMK kelas 3. Pemuda ini kemudian vakum dari segala
kegiatannya demi cita-citanya ingin lulus SMK dan meneruskan ke perguruan
tinggi negeri. Tetapi, keberuntungan sedang tidak berpihak padanya saat itu.
Ketika ia mendaftar di perguruan tinggi, ia tidak diterima. Yuli mengaku,
awalnya ia sempat putus asa dan tidak bersemangat lagi, tetapi kemudian ia
memantapkan diri ingin menjadi orang yang berguna bagi lingkungan disekitarnya.
Dari situlah awal ia menjadi pemuda sadar alam sebagai sosok penyelamat di
Gunungkidul.
Pemuda ini
kemudian aktif kembali dalam kegiatannya sebagi pecinta alam. Selain PALASIT,
Yuli juga mengikuti komunitas baru dengan menjadi personil relawan PMI
Gunungkidul. Diantara teman-teman relawannya, Yuli merupakan anggota yang
termuda. Rata-rata anggota yang lain berumur 30-an keatas yang telah memiliki pekerjaan
pokok. Yuli dan teman-teman relawan, yang pada saat itu di Gunungidul hanya
berjumlah 10 orang menjadi tokoh penting bagi masyarakat. “Tugas utama kami
hanya satu, yaitu selalu ada ketika dibutuhkan”, begitulah ungkapan pemuda ini
ketika sedang wawancara.
Menjadi relawan
PMI bukanlah suatu hal yang mudah dan dapat dilakukan oleh semua orang.
Kegiatan mereka adalah membantu masyarakat Gunungkidul ketika terdapat sesuatu
masalah dan membutuhkan bantuan. Beberapa kegiatan yang biasa dilakukan sebagai
relawan PMI adalah membantu apabila terdapat kecelakaan, dropping air ke daerah
sulit air, dan berbagai kegiatan penyelamatan yang lain. Dari kegiatan awalnya
yang hanya sekedar hobi ini, kemudian menjadikan seorang pemuda bernama Yuli
mampu bermanfaat bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.
Ketika saya
menanyakan mengenai kenapa masih bertahan menjadi relawan PMI, sedangkan gaji
pun tidak didapatkan secara pasti, pemuda ini mengatakan “ya gimana ya mbak,
menjadi relawan itu udah panggilan hati, ikhlas membantu sesama itu udah
seneng, bukan mulu-mulu soal uangnya”. Sungguh menggetarkan, seorang pemuda
yang aktif dalam kegiatan seperti ini. Padahal kita tahu bahwa di luar sana,
pemuda seusia Yuli ini biasanya acuh terhadap hal-hal tersebut. Mereka hanya
berhura-hura dan tidak perduli dengan hal-hal serupa. Tetapi, Yuli, ia seorang
pemuda yang memiliki kesadaran ingin selalu membantu dan bermanfaat bagi
lingkungannya tanpa memikirkan apa yang akan ia dapatkan.
Setelah satu
tahun ia fokus menjadi relawan PMI dan anggota pecinta alam, kini ia telah
menjadi seorang mahasiswa jurusan keolahragaan di Universitas Negeri
Yogyakarta. Yuli mengatakan bahwa ia juga ingin mempunyai ilmu yang tinggi.
Namun, meskipun kini pemuda sadar alam sebagai sosok penyelamat ini telah mempunyai
kesibukan baru menjadi seorang mahasiswa, ia akan tetap menjadi seorang yang
sama seperti sebelumnya. “Saya sih masih tetep mau jadi relawan mbak kalau bisa
ya sampai seterusnya, dan saya berharap akan banyak orang yang sadar untuk ikut
membantu”. Begitulah akhir dari pembicaraan kami.

Comments
Post a Comment