PANTAI GREWENG, SURGA DI BALIK BUKIT



PANTAI GREWENG, SURGA DI BALIK BUKIT

            Kabupaten Gunungkidul mempunyai bentang alam yang terdiri dari dataran tinggi dan gunung-gunung yang didominasi pegunungan karst atau kapur yang menjadi daya tarik para wisatawan. Kabupaten ini dilengkapi dengan berbagai obyek wisata alam yang masih alami seperti pantai, gua, sungai, air terjun, dan lain-lain. Daerah ini merupakan daerah yang dekat dengan laut selatan, sehingga daerah ini memiliki obyek pantai yang sangat banyak. Salah satunya adalah Pantai Greweng, pantai di balik bukit, karena di apit oleh dua batu karang yang besar, dan di tengah-tengahnya adalah ombak. Pantai ini terletak di Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Lokasi tepatnya berada di sebelah timur Pantai Wediombo. Pantai ini terbilang pantai perawan, karena masih sedikit pengunjung yang mengetahui dan datang sehingga serasa pantai pribadi.


    
            Pantai Greweng dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi dan memakan waktu 1,5-2 jam, dengan jarak sekitar 60km dari pusat Kota Yogyakarta. Rutenya yakni dari Kota Yogyakarta menuju Kota Wonosari, melalui Jalan Wonosari, kemudian ke arah Tepus, dari pertigaan Tepus ambil jalan kekiri (selatan), lalu ikuti saja papan petunjuk jalan yang mengarah ke Pantai Wediombo. Berhubung Pantai Greweng belum terjamah banyak pengunjung, untuk mencapainya harus berjalan kaki sekitar 3km atau 45menit dari tempat parkir. Kendaraan pribadi dapat dititipkan atau diparkirkan di tempat parkir Pantai Wediombo atau Pantai Jungwok. Tiket masuk ke pantai ini sebesar Rp5.000,00 per orang.
            Perjalanan yang ditempuh dengan berjalan kaki di tengah hutan, yang sedikit petunjuk arah akan terbayar dengan pemandangan hijau indah dan alami, ditambah dengan suara burung yang bersahut-sahutan serta suara binatang lainnya. Perjalanan tersebut akan melewati sawah penduduk, ladang penduduk yang mayoritas ditanami jagung, kacang tanah, tumbuhan pakan ternak dan ternaknya, semak belukar, serta gua. Terdapat beberapa persimpangan yang tidak ada petunjuk arahnya, apabila tidak tahu dapat langsung bertanya dengan penduduk yang sedang bertani. Bebatuan runcing akan menjadi teman baru, karena di sepanjang jalan akan menemui bebatuan karst dari ukuran kecil hingga terbesar. Untuk itu, disarankan berhati-hati dan menggunakan alas kaki. 
            Perjalanan serasa membelah hutan itu akan disambut oleh aliran air yang menuju pantai, dan menandakan sudah dekat dengan pantai tersebut. Suara gemuruh ombak mulai terdengar. Pasir putih yang halus, cocok untuk memanjakan kaki yang lelah, ditambah dengan pemandangan pantai yang indah. Pantai itu memang tidak begitu lebar dan luas, namun suasana yang masih sepi membuat pengunjung serasa berada di pantai pribadi, dapat dimanfaatkan untuk berfoto sepuasnya. Semua kelelahan dan kepenatan akan terbayar setelah sampai pantai tersebut.
            Pantai yang masih sepi dan perawan, biasanya menjadi incaran para pecinta alam untuk bermalam di pantai dengan mendirikan tenda. Sayangnya, di pantai ini fasilitas masih minim sekali. Hanya terdapat dua kamar mandi, dan tidak ada satu pun penjual makanan atau minuman. Untuk itu, bagi yang ingin ke pantai ini disarankan membawa bekal sendiri dari rumah dan tidak perlu repot membawa persediaan air, karena di pantai ini telah terdapat sumber mata air yang berada di bawah bukit. Bagi yang bermalam di pantai juga tidak perlu membawa kayu bakar dari rumah, karena si penjaga kamar mandi menjual kayu bakar. Selain Pantai Greweng, di sebelahnya terdapat pantai perawan juga yakni Pantai Sedahan, langsung saja berjalan menaiki bukit di selatan Pantai Greweng. Pantai Sedahan juga tak kalah menakjubkan dari Pantai Greweng.

Comments

Popular posts from this blog

Innovators CAR ANDROID \\ INOVATOR MOBIL ANDROID