MENELUSURI FENOMENA TINDIHAN
MENELUSURI
FENOMENA TINDIHAN
Siklus
kehidupan manusia tidak terlepas dari kebiasaan tidur. Dalam tidur seringkali
terdapat beberapa peristiwa yang menyelemuti di dalamnya, salah satunya adalah
ketindihan. Peristiwa tersebut kerap kali dialami manusia, baik itu laki-laki,
perempuan, anak-anak, muda, maupun tua. Salah satu tanda terjadinya ketindihan
adalah saat bangun tidak mampu bicara atau menggerakan organ tubuhnya.
Ketindihan adalah peristiwa
yang biasanya ditandai dengan ketidakmampuan untuk berbicara atau bergerak saat
bangun tidur. Kejadiannya hanya berlangsung singkat, yakni beberapa detik
hingga beberapa menit. Dalam istilah medis, ketindihan disebut sleep paralysis. Sejak ribuan tahun yang
lalu, ketindihan sudah menjadi peristiwa yang mengganggu tidur manusia. Bahkan,
disetiap negara memiliki cara pandang tersendiri dalam melihat ketindihan.
Sleep
paralysis memiliki dua jenis yaitu hypnagogic
sleep paralysis dan hypnopompic sleep
paralysis. Hypnagogic sleep paralysis
sendiri terjadi sebelum seseorang tertidur sepenuhnya, umumnya terjadi ketika
menjelang tidur. Tubuhnya akan terasa semakin rileks dan perlahan-lahan
kehilangan kesadaran. Bagi seseorang yang mengalami hypnagogic sleep paralysis dirinya tetap sadar, namun dia tidak
dapat berbicara atau menggerakan tubuh. Berbeda dengan hypnagogic sleep paralysis yang terjadi sebelum tidur.
Hypnopompic
sleep paralysis berlangsung ketika seseorang tersadar pada
akhir masa tidur. Fase tidur seseorang manusia dapat dibagi dua yaitu NREM (non-rapid eye movement) dan REM (rapid
eye movement). Pembagian porsi menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI) untuk keduanya yaitu NREM sebesar 75%, dan sisanya untuk REM. Ketika
seseorang tersadar sebelum masa REM berakhir, maka pada saat itulah terjadi hypnopompic sleep paralys.
Banyak faktor yang
menyebabkan peristiwa tindihan yakni faktor internal maupun eksternal pada
seseorang. Pertama, stress dan tekanan sepanjang hari. Pekerjaan maupun
kegiatan setiap orang yang memiliki mobilitas yang tinggi sehingga waktunya
lebih banyak dihabiskan dalam pekerjaan sehingga membuatnya
stress. Apalagi di era globalisasi ini, yang membutuhkan kecepatan dan
ketepatan dalam melakukan segala hal, membuat kegiatan itu harus dilaksanakan
dengan efektif dan efisien. Oleh karena itu, munculah tekanan untuk segera
menyelesaikan pekerjaan tersebut yang membuat tidurnya menjadi terganggu.
Selanjutnya, faktor dari pola
tidur yang tidak teratur. Pola tidur seseorang yang berubah-ubah juga menjadi
salah satu faktor yang berpotensi terjadinya ketindihan. Misalnya, dalam
seminggu orang tersebut setiap malam tidurnya 7, 6, 8, 4, 5, 7, dan 3 jam.
Tentunya hal ini akan berpengaruh pada psikologinya. Oleh karena itu, harus ada
mekanisme pengaturan pola tidur. Salah satu caranya adalah menggunakan catatan
mengenai pola tidur selama beberapa minggu.
Kemudian, faktor usia. Pada
usia muda, seseorang yang paling berisiko mengalami ketindihan. Hal ini dapat
dilihat dari keaktifan pemuda dalam berkegiatan. Mulai dari pagi, sampai larut
malam mereka aktif terlibat dalam kegiatan. Akibatnya, mereka mengabaikan
pentingnya tidur yang ideal. Bahkan mereka kerap kali terkena insomnia yang
semakin berpotensi untuk terkena ketindihan.
Terakhir, faktor obat-obatan.
Banyaknya kandungan kimia dalam obat-obatan juga berpotensi terkena tindihan.
Hal ini dapat dilihat dari porsi kandungan kimia yang lebih banyak dari
herbalnya. Padahal bahan-bahan kimia akan sulit dicerna oleh tubuh seseorang.
Bahkan, saat ini sudah banyak yang melakukan penyalagunaan obat-obatan
terlarang, maka proses terjadinya ketindihan saat tidur juga semakin tinggi.
Oleh karena itu, pengaruh
ketindihan yang disebabkan oleh beberapa faktor di atas dapat diatasi dengan
mengubah kepribadian seseorang, khususnya mengenai pola tidur. Pentingnya
tidur, harus menjadi landasan seseorang agar mereka terbebas dari ketindihan.
Dengan demikian, setiap orang juga memiliki keyakinan bahwa ketindihan jangan
diremehkan.

Comments
Post a Comment