Albino Pada Manusia
Albino Pada Manusia
Manusia
terlahir di
dunia ini tentu saja memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain. Perbedaan
tersebut dapat kita lihat dari ciri fisiknya, mulai dari
jenis rambut, postur tubuh, dan warna kulit. Warna kulit manusia memang
berbeda-beda, tergantung dari suku/ras mana orang tersebut dilahirkan. Orang
yang dilahirkan dari ras negroid
misalnya, pasti akan memiliki kulit yang berwarna hitam, orang yang dilahirkan
dari ras mongoloid pasti memiliki
kulit yang putih. Namun bisa saja orang yang memiliki keturunan ras kulit hitam
memiliki kulit berwarna putih atau biasa disebut dengan albino. Hal tersebut merupakan kelainan kulit yang terjadi pada
sebagian manusia.
Albino berasal dari bahasa Latin albus yang berarti putih.
Ia juga disebut hypomelanism atau hypomelanosis, adalah salah satu bentuk
dari hypopigmentary congenital disorder. Ciri khas dari Albino adalah hilangnya pigmen
melanin pada mata, kulit, dan rambut (atau lebih jarang hanya pada mata). Albino timbul dari perpaduan gen
resesif. Albino adalah kelainan
genetik tapi bukan penyakit infeksi dan tidak dapat dipindahkan melalui
hubungan, perpindahan darah dan lain-lain. Tubuh orang
albino tidak dapat memproduksi pigmen melanin yang beerfungsi untuk memberikan
warna pada kulit,mata maupun rambut.
Dalam
kondisi normal, suatu asam amino yang
disebut tirosin oleh tubuh diubah
menjadi pigmen (zat warna) melanin. Albinisme terjadi jika tubuh tidak mampu menghasilkan atau
menyebarluaskan melanin karena
beberapa penyebab. Secara khusus, kelainan metabolisme tirosin menyebabkan kegagalan pembentukan melanin sehingga terjadi albinisme.
Albinisme bisa diturunkan melalui
beberapa pola, yaitu resesif autosom,
dominan autosom atau X-linked.
Albinisme komplit terjadi ketika tidak
ditemukan pigmen pada rambut, mata dan kulit yang disebut juga albinisme okulokutaneus tirosin, sehingga
menyebabkan rambut berwarna putih, iris mata pink dan kulitnya putih pucat. Bagi penderita Albinisme yang paling berat, kulit dan iris matanya akan berwarna
putih disertai
dengan
gangguan penglihatan. Akibat tidak memiliki melanin,
penderita Albinisme mengalami fotofobia (takut terhadap sinar
matahari) dan mudah mengalami luka bakar serta bisa menderita kanker kulit
karena tidak memiliki melanin yang
berfungsi melindungi kulit dari paparan sinar matahari.
Albino
bukanlah suatu penyakit berjangkit yang ditakuti heperti hepatitis
atau TBC. Pergaulan antara sesama manusia sama saja, tiada pantangan dan larangan.
Albinisme merupakan suatu kondisi yang tidak dapat diobati atau disembuhkan,
akan tetapi ada cara-cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas hidup
penderita. Hal yang paling penting adalah melindungi mata dari sinar yang
terang dan menghindari kerusakan kulit dari sinar ultraviolet. Keberhasilan
dalam terapi bergantung pada jenis albino dan seberapa parahnya gejala.
Biasanya orang dengan ocular albinism lebih memiliki pigmen kulit yang normal
sehingga penderita tidak memerlukan perlakuan pada kulitnya.
Albino
tidak terpengaruh gender, kecuali ocular albino (terkait dengan kromosom x),
sehingga seseorang itu lebih sering terkena ocular (berkenaan mata) albino. Biasanya
perubahan untuk kondisi mata didapatkan dari rehabilitasi visual. Pembedahan
mungkin hanya untuk otot mata yang berguna menurunkan nystagmus, strabismus,
dan kesalahan refraksi seperti astigmatisma. Pembedahan strabismus
akan menyebabkan perubahan penampilan pada mata. Pembedahan untuk nistagmus
mungkin dapat mengurangi perputaran bola mata yang berlebihan.
Tidak
ada yang membedakan antara penderita albino dengan orang normal, kecuali warna kulit dan rambutnya saja yang
berbeda jadi tidak perlu memberikan perlakuan yang beda terhadap anak albino.

Comments
Post a Comment